Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunnah Sutrah Ketika Shalat Adalah Konsensus Ulama Fiqih, Benarkah?

 


Yurifa Iqbal, Lc

Kaum muslimin tentu sudah paham bahwa ketika shalat harus menghadap ke arah kiblat. Jelas. 

Yang mungkin banyak belum diketahui kaum muslimin adalah ketika shalat disunnahkan dan dianjurkan untuk menghadap ke arah sutrah.

Tentu kita perlu memahami apa yang dimaksud sutrah ketika shalat ditegakkan ini. Definisi sutrah dapat kita jumpai diantaranya dalam kitab

الموسوعة الفقهية الكويتية

juz 24 halaman 177 :

 وسترة المصلي في الاصطلاح: هي ما يغرز أو ينصب أمام المصلي من عصا أو غير ذلك، أو ما يجعله المصلي أمامه لمنع المارين بين يديه

Pengertian sutrah yang dipakai oleh orang yang shalat dalam istilah syar'i adalah : sesuatu yang ditancapkan atau ditegakkan di hadapan orang yang sedang shalat berupa tongkat atau benda lainnya atau apapun yang diletakkan oleh orang yang sedang shalat di hadapannya dalam rangka mencegah orang-orang lewat di depannya.

وعرفها البهوتي: بأنها ما يستتر به من جدار أو شيء شاخص أو غير ذلك يصلى إليه

Imam Al Bahuti mendefinisikan sutrah adalah apapun yang menutupi berupa dinding atau sesuatu yang tetap/mapan atau benda lain dimana orang yang shalat menghadap ke arahnya.

Sehubungan dengan sunnah hukumnya sutrah ketika menegakkan shalat dan hal tersebut telah menjadi ijmak konsensus kesesuaian pendapat para fuqaha dapat kita ketahui diantaranya dalam kitab 

بداية المجتهد ونهاية المقتصد

juz 1 halaman 121 dimana dalam kitab ini disampaikan :

واتفق العلماء بأجمعهم على استحباب السترة بين المصلي والقبلة إذا صلى منفردا كان أو إماما

Para ulama seluruhnya telah bersepakat (ada konsensus kesesuaian pendapat) akan dianjurkan & disunnahkan ada sutrah yang diletakkan antara orang yang shalat dan kiblat baik dia ketika shalat sendirian maupun saat menjadi Imam.

Konsensus akan Sunnah Sutrah ketika shalat ini juga dapat kita jumpai diantaranya dalam kitab

المغني لابن قدامة - ط مكتبة القاهرة

juz 2 halaman 174. Berikut nukilannya :

وجملته أنه يستحب للمصلي أن يصلي إلى سترة، فإن كان في مسجد أو بيت صلى إلى الحائط أو سارية، وإن كان في فضاء صلى إلى شيء شاخص بين يديه، أو نصب بين يديه حربة أو عصا، أو عرض البعير فصلى إليه، أو جعل رحله بين يديه

Orang yang shalat dianjurkan, disunnahkan untuk shalat menghadap ke sutrah. Jika shalat di Masjid atau di rumah maka dia shalat menghadap ke tembok atau tiang, jika shalat di ruang terbuka maka dia shalat menghadap ke sesuatu yang tetap/mapan atau dia memasang menancapkan tombak atau tongkat di hadapannya, atau menambatkan unta di hadapannya kemudian shalat menghadapnya, atau dia meletakkan pelana unta di hadapannya lalu shalat.

ولا نعلم في استحباب ذلك خلافا

Kami para ulama tidak menjumpai ada perbedaan pendapat terkait dianjurkan dan disunnahkan adanya sutrah ketika shalat.

Kesimpulannya adalah para ulama sudah ittifaq dan ijmak alias sepakat tidak ada perbedaan pendapat bahwa sutrah di depan orang shalat ketika menegakkan shalat hukumnya tidaklah wajib namun hukumnya sunnah.

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب

Posting Komentar untuk "Sunnah Sutrah Ketika Shalat Adalah Konsensus Ulama Fiqih, Benarkah?"