Qiyas Adalah Mizan, Benarkah?
Yurifa Iqbal, S.Si
Telah masyhur dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh bahwasanya Qiyas merupakan dalil syar'i untuk menggali hukum-hukum Syariah.
Syaikh Muhammad Husain Abdullah dalam kitab
الواضح في أصول الفقه
halaman 102 dan 103 menyampaikan :
يحتل القياس المرتبة الرابعة في التشريع الإسلامي، فهو يأتي بعد القرآن، والسنة، والإجماع
Qiyas menempati level ke-4 dalam pensyariatan hukum Islam (tasyri islami) setelah Al Qur'an, As Sunnah, dan Ijmak.
القياس دليل شرعي على الأحكام الشرعية. وقد ثبت ذلك بأدلة قطعية و أدلة ظنية
Qiyas ini merupakan dalil syar'i untuk menggali hukum-hukum Syariah. Qiyas telah valid fiks berdasarkan dalil-dalil yang bersifat qath'i/pasti dan dalil-dalil yang bersifat zhanni.
Adapun definisi Qiyas berdasarkan penjelasan dalam kitab
المختار في أصول الفقه
halaman 127 adalah :
إلحاق أمر بآخر في الحكم الشرعي لاتحاد بينهما في العلة أي لاتحادهما في الباعث على الحكم في كل منهما
Menyamakan suatu perkara dengan perkara lainnya dalam hukum syariat karena adanya kesamaan illah hukum diantara keduanya, yaitu kesamaan alasan disyariatkannya hukum di kedua perkara tersebut.
Contoh sederhana penerapan Qiyas dalam kitab tersebut adalah haramnya akad sewa menyewa (ijarah) ketika adzan shalat Jumat telah berkumandang, disamakan dengan haramnya akad jual beli ketika adzan shalat Jumat telah berkumandang yang terdapat dalam Al Quran surat Al Jumuah ayat 9. Apa alasan diharamkannya (illah) akad jual beli dan sewa menyewa saat adzan shalat Jumat telah berkumandang? Karena akan melalaikan dari pelaksanaan shalat Jumat. Jadi haramnya sewa menyewa ijarah saat adzan shalat Jumat telah berkumandang merupakan Qiyas kepada haramnya akad jual beli dimana dalil keharaman akad jual beli terdapat dalam Al Quran surat Al Jumuah ayat 9.
Bahkan disampaikan juga bahwa telah terjadi kesesuaian pandangan diantara ulama Ahlus Sunnah bahwa dalil-dalil yang ternilai secara syar'i ada 4. Di dalam kitab
معالم أصول الفقه عند أهل السنة والجماعة
halaman 68 dan 185 disampaikan :
اتفق أهل السنة على أن الأدلة المعتبرة شرعا أربعة وهي: الكتاب، والسنة، والإجماع، والقياس، وذلك من حيث الجملة. قال الشافعي: وجهة العلم الخبر في الكتاب، أو السنة، أو الإجماع، أو القياس
Telah terdapat kesesuaian pandangan dan tidak ada perselisihan diantara ulama Ahlus Sunnah bahwa sesungguhnya dalil-dalil yang ternilai secara syar'i ada 4 yaitu Al Qur'an, As Sunnah, Ijma, dan Qiyas. Secara global seperti itu. Imam Asy Syafi'i menyampaikan : ilmu hukum syariat dapat diperoleh dari informasi Al Qur'an, As Sunnah, Ijma atau Qiyas.
اتفق جمهور العلماء على إثبات القياس والاحتجاج به من حيث الجملة، بل ذكره كثير من علماء أهل السنة ضمن الأدلة المتفق عليها
Mayoritas ulama Ahlus Sunnah telah sepakat akan berlakunya Qiyas dan ternilainya Qiyas sebagai hujjah/dalil secara global. Bahkan banyak ulama Ahlus Sunnah yang menyampaikan bahwa Qiyas termasuk dalil-dalil yang disepakati dan tidak ada perselisihan ulama atasnya.
Namun ada yang menarik dari Imam Ibnul Qayyim terkait bahasan Qiyas ini dimana Imam Ibnul Qayyim menyampaikan bahwa Qiyas adalah Mizan!
Di dalam kitab
إعلام الموقعين عن رب العالمين
karya Imam Ibnul Qayyim yang terdokumentasi pada juz 1 halaman 103 tertulis :
والميزان يراد به العدل والآلة التي يعرف بها العدل وما يضاده؛ والقياس الصحيح هو الميزان؛ فالأولى تسميته بالاسم الذي سماه الله به، فإنه يدل على العدل، وهو اسم مدح واجب على كل واحد في كل حال بحسب الإمكان
Yang dimaksud Mizan adalah keadilan dan instrumen yang dapat menunjukkan keadilan serta hal yang kontradiktif dengan keadilan. QIYAS YANG SHAHIH/BENAR ADALAH MIZAN. Maka yang lebih utama adalah menamai Qiyas dengan istilah yang telah Allah namai dalam Al Qur'an, yaitu nama yang menunjukkan pada keadilan, nama penghormatan yang wajib atas setiap hal di setiap kondisi semaksimal mungkin.
بخلاف اسم القياس فإنه ينقسم إلى حق وباطل، وممدوح ومذموم، ولهذا لم يجئ في القرآن مدحه ولا ذمه، ولا الأمر به ولا النهي عنه، فإنه مورد تقسيم إلى صحيح وفاسد
والصحيح هو الميزان الذي أنزله مع كتابه
Lain halnya dengan istilah Qiyas dimana Qiyas terkategori menjadi dua keadaan, ada yang Haq dan ada yang Batil, ada yang terpuji dan ada yang tercela. Oleh sebab itu Al Qur'an tidak memuji dan tidak juga mengecamnya, tidak memerintahkan tidak pula melarangnya. Qiyas dapat terkategori menjadi shahih/benar dan fasid/salah.
Maka YANG SHAHIH (BENAR) QIYAS ADALAH MIZAN dimana Allah telah menurunkannya bersama dengan Al Qur'an.
Keterangan bahwa Qiyas adalah Mizan ini juga dinukil dalam kitab
معالم أصول الفقه عند أهل السنة والجماعة
pada halaman 186 sebagai berikut :
وقال ابن القيم: فالصحيح [يعني من القياس] هو الميزان الذي أنزله مع كتابه
Imam Ibnul Qayyim menyampaikan : yang benar Qiyas itu adalah Mizan dimana Allah telah menurunkan Mizan tersebut bersama dengan Al Qur'an.
Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.
والله تعالى أعلم بالصواب
Posting Komentar untuk "Qiyas Adalah Mizan, Benarkah?"