Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Riba Yang Halal, Benarkah?

 



Yurifa Iqbal 

Selama ini sudah familiar diketahui dalam Islam bahwasanya riba itu hukumnya haram. Al Qur'an dan As Sunnah telah menginformasikan riba hukumnya haram. Terdapat juga Ijma kesesuaian pandangan diantara para ahli ilmu bahwa riba hukumnya haram. Bahkan keharaman riba dalam Islam ini adalah sesuatu yang diketahui jelas secara aksiomatis (ma'lumun min ad diin bi dharurah).

Lalu bagaimana bisa ada riba yang hukumnya halal? Sabar jangan terburu-buru kaget dulu. Mari kita simak bersama.

Dalam Al Qur'an Surat Ar Rum ayat 39 Allah berfirman :

وما آتيتم من ربا ليربو في أموال الناس فلا يربو عند الله

Semua riba yang kalian beri supaya bertambah dalam harta manusia maka itu tidaklah bertambah di sisi Allah.

Maka berkaitan dengan ayat diatas ada penjelasan menarik dari Imam Ibnul Arabi Al Maliki ketika menafsirkan ayat ini! Ketika menjelaskan ayat ini Imam Ibnul Arabi Al Maliki menyampaikan bahwasanya riba itu ada yang halal dan yang haram!

Berikut nukilannya dalam kitab 

أحكام القرآن لابن العربي

juz 3 halaman 523 dan 524 :

بينا الربا ومعناه في سورة البقرة، وشرحنا حقيقته وحكمه، وهو هناك محرم وهنا محلل، وثبت بهذا أنه قسمان؛ منه حلال ومنه حرام

Telah kami jelaskan riba dan maknanya di surat Al Baqarah, dan telah kami jelaskan hakikat dan hukumnya, riba yang disebutkan dalam surat Al Baqarah adalah riba yang haram sedangkan riba yang disebutkan dalam surat Ar Rum ayat 39 adalah riba yang halal, maka jelaslah dari uraian ini bahwasanya riba ada dua macam : riba halal dan riba haram.

في المراد بهذه الآية: فيه ثلاثة أقوال

Maka riba halal yang dimaksud oleh ayat ini berdasarkan pandangan Imam Ibnul Arabi Al Maliki ada 3 pendapat :

الأول: أنه الرجل يهب هبة يطلب أفضل منها؛ قاله ابن عباس

Pendapat pertama sebagaimana perkataan Ibn Abbas : seseorang memberikan hibah atau hadiah kepada orang lain dengan tendensi dia ingin mendapatkan balasan yang lebih baik dari yang sudah dia hibahkan.

الثاني: أنه الرجل في السفر يصحبه رجل يخدمه ويعينه، فيجعل المخدوم له بعض الربح جزاء خدمته، لا لوجه الله؛ قال الشعبي

Pendapat kedua sebagaimana perkataan Asy Sya'bi : seseorang sedang dalam perjalanan ditemani oleh orang lain yang melayani dan membantunya, lantas orang yang diberi pelayanan memberikan sebagian keuntungan yang didapat dari perdagangan saat bepergian tersebut dalam rangka balasan atas pelayanan yang diberikan, berbagi sebagian keuntungan bukan karena mengharap wajah Allah namun motivasinya adalah kompensasi karena dia telah dibantu dan dilayani saja.

الثالث: الرجل يصل قرابته، يطلب بذلك كونه غنيا، لا صلة لوجه الله؛ قاله إبراهيم

Pendapat ketiga sebagaimana perkataan Ibrahim An Nakhai : seseorang yang menyambung hubungan baik dengan keluarganya dimana motivasinya adalah karena dia sosok orang kaya, menyambung hubungan baik tersebut bukan dalam rangka mencari wajah Allah. 

وصريح الآية فيمن يهب يطلب الزيادة من أموال الناس في المكافأة، وذلك له

Maka ayat ini tegas membahas siapa saja yang memberi hibah untuk mengharapkan tambahan dari harta orang lain dalam hibah/hadiah balasan dan itu merupakan haknya.

وقد قال عمر بن الخطاب: " أيما رجل وهب هبة يرى أنها للثواب فهو على هبته حتى يرضى منها

Umar bin Khattab - semoga Allah meridhoinya - berkata : semua orang yang memberikan hibah & dia berpandangan bahwa hibahnya itu untuk mendapat hibah balasan maka dia sebagaimana yang dia maksudkan pada hibahnya sampai dia rela.

Maka dari 3 pendapat dalam bahasan ini yang tepat berdasarkan pandangan Imam Ibnul Arabi Al Maliki adalah pendapat pertama yang merupakan perkataan Ibn Abbas. Bahwa makna ayat adalah seseorang memberikan hibah atau hadiah kepada orang lain dan meminta atau mengharapkan hibah balasan yang lebih baik.

Berkaitan dengan memberikan hibah kemudian meminta atau berharap untuk diganti dengan hibah yang lebih baik, bagaimana hukumnya menurut ulama? Berikut penjelasan Imam Ibnul Arabi Al Maliki :

وقد اختلف علماؤنا فيما إذا طلب الواهب في هبته زائدا على مكافأته

Para ulama kaum muslimin berselisih pendapat tentang seseorang yang memberikan hibah kemudian dia meminta agar diberi hibah/hadiah balasan yang lebih baik.

فإن كانت الهبة قائمة لم تتغير، فيأخذ ما شاء، أو يردها عليه وقيل: تلزمه القيمة

Jika hibah atau hadiah yang dia berikan masih ada dan tidak berubah kemudian dia minta agar diberi hadiah balasan yang lebih baik, maka orang yang diberi hibah bisa mengambil apa yang dia inginkan atau dia kembalikan saja hibah kepada orang tadi karena orang tadi memberi hibah dengan niat balasan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa orang yang diberi hibah wajib mengganti nilainya.

وأما إذا كان بعد فوات الهبة فليس له إلا القيمة اتفاقا
وقد قال تعالى: ﴿ولا تمنن تستكثر﴾ [المدثر: ٦]

Adapun jika minta hibah balasan itu setelah hibah tersebut habis atau sudah tidak tersedia lagi, maka ulama sepakat dia tidak punya hak kecuali diganti senilai dengan hibah/hadiah. Allah berfirman dalam surat Al Mudatsir ayat 6 : janganlah engkau memberi karena ingin minta yang lebih banyak.

Sebagai tambahan informasi, menurut 4 madzhab, hibah atau hadiah yang dipersyaratkan ada pemberian kompensasi (atau ada balasan) dihukumi sebagai jual beli.

Di dalam kitab 

الموسوعة الفقهية الكويتية

juz 10 halaman 286 dan 287 disampaikan :

ذهب الحنفية والحنابلة، وهو الأظهر من المذهب عند الشافعية: إلى أن الهبة إذا كانت بشرط العوض يصح العقد ويتحول إلى بيع

Para ulama dari madzhab Hanafiyah, Hanabilah, dan pandangan ulama Syafi'iyah yang terkuat (الأظهر, azhar) telah menyatakan bahwa akad hibah yang dipersyaratkan ada pemberian kompensasi (atau ada balasan) dihukumi sah dan terkonversi menjadi akad jual beli.

وذهب المالكية إلى: أن هبة الثواب بيع ابتداء

Sedangkan ulama madzhab Malikiyah berpandangan bahwa hibah yang dipersyaratkan ada pemberian kompensasi (atau ada balasan) tersebut dihukumi sebagai akad jual beli sejak awal.

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga menjadi tambahan wawasan kita. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب

Posting Komentar untuk "Ada Riba Yang Halal, Benarkah?"