Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hukum Mencukur Rambut & Memotong Kuku Bagi Pequrban Di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Menurut 4 Madzhab

 


Yurifa Iqbal, S.Si


Para fuqaha dari 4 madzhab berbeda pendapat terkait hukum mencukur rambut dan memotong kuku bagi orang yang akan berqurban di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Setidaknya ada 3 pendapat berkaitan dengan pembahasan ini.

Pendapat pertama dari madzhab Hanafiyah yang menyatakan bahwa larangan mencukur rambut dan memotong kuku bagi orang yang mau berqurban tidak disunnahkan juga tidak dimakruhkan, namun mubah saja alias boleh-boleh saja. Jika pequrban ingin cukur rambut atau potong kuku silakan, kalau tidak ingin juga silakan. Tidak ada masalah. Di dalam kitab 

اختلاف العلماء للطحاوي - اختصار الجصاص

juz 3 halaman 230 disampaikan :

قال أصحابنا لا بأس لمن يريد أن يضحي أن يحلق شعره ويقص أظفاره في عشر ذي الحجة

Para fuqaha Hanafiyah berpandangan bahwa orang yang akan berqurban tidak masalah mencukur rambutnya atau memotong kukunya ketika sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Pendapat kedua dari madzhab Syafi'iyah, Malikiyah, dan satu pandangan dalam madzhab Hanabilah yang menyatakan bahwa tidak mencukur rambut atau tidak memotong kuku bagi orang yang akan berqurban dibawa ke hukum sunnah bukan wajib, karena diantara tuntunan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه وسلم bagi orang yang akan berqurban adalah tidak mencukur rambut atau tidak potong kuku di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, akan tetapi pendapat kedua ini menyatakan bahwa kalau pequrban tetap cukur rambut atau potong kuku di saat tersebut dihukumi makruh & tidak haram.

Di dalam kitab 

الإشراف على مذاهب العلماء

juz 3 halaman 411 - 412 disampaikan :

واختلف أهل العلم في ذلك، فكان مالك، والشافعي، يرخصان: في أخذ الشعر والأظفار وإن أراد أن يضحي ما يحرم غير أنهما يستحبان الوقوف عن ذلك عند دخول العشر إذا أراد أن يضحي

Para ulama ahli ilmu berbeda pandangan terkait dengan tidak mencukur rambut atau tidak potong kuku di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bagi orang yang akan berqurban. Imam Malik dan Imam Syafi'i memberikan rukhshah alias keringanan terkait cukur rambut atau potong kuku bagi orang yang akan berqurban dimana hal demikian tidaklah haram, hanya saja Imam Malik dan Imam Syafi'i menganjurkan untuk tidak cukur rambut atau tidak potong kuku bagi orang yang mau berqurban ketika masuk di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Di dalam kitab 

المجموع شرح المهذب

juz 8 halaman 392 disampaikan :

مذهبنا أن إزالة الشعر والظفر في العشر لمن أراد التضحية مكروه كراهة تنزيه حتى يضحي

Menurut madzhab kami yakni Syafi'iyah mencukur rambut atau potong kuku bagi orang yang akan berqurban pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dihukumi makruh tanzih sampai orang tersebut selesai menyembelih hewan qurbannya, maka barulah hilang hukum makruh tanzih tersebut.

Adapun pendapat ketiga merupakan pendapat resmi madzhab Hanabilah yang menyatakan bahwa orang yang akan berqurban diharamkan cukur rambut atau potong kuku sampai dia selesai menyembelih hewan qurbannya.

Di dalam kitab 

شرح السنة للبغوي

juz 4 halaman 348 disampaikan :

فذهب قوم إلى أنه لا يجوز لمن يريد الأضحية بعد دخول العشر أخذ شعره وظفره ما لم يذبح، وإليه ذهب سعيد بن المسيب، وبه قال ربيعة، وأحمد، وإسحاق

Beberapa ulama berpandangan bahwa setelah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah orang yang akan berqurban tidak diperbolehkan untuk cukur rambut atau potong kuku selama hewan qurbannya belum disembelih. Ini merupakan pandangan Said bin Musayyab, Rabiah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ishaq.

Kemudian di dalam kitab 

المغني لابن قدامة - ط مكتبة القاهرة

juz 9 halaman 436 dan 437 disampaikan :

ومن أراد أن يضحي، فدخل العشر، فلا يأخذ من شعره ولا بشرته شيئا ظاهر هذا تحريم قص الشعر. وهو قول بعض أصحابنا. وحكاه ابن المنذر عن أحمد وإسحاق وسعيد بن المسيب. وقال القاضي، وجماعة من أصحابنا: هو مكروه، غير محرم. وبه قال مالك والشافعي

Siapa saja yang akan berqurban sedangkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah telah masuk, maka tidak diperbolehkan untuk cukur rambut atau menghilangkan kulit luarnya sama sekali, yang lebih dekat dengan kebenaran dalam bahasan ini (ظاهر, zhahir) adalah haram hukumnya cukur rambut atau potong kuku atau potong kulit luarnya, ini merupakan pendapat sebagian ulama Hanabilah, Imam Ibn Mundzir juga telah meriwayatkan pendapat keharaman ini dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq, dan Said bin Musayyab. Adapun Qadhi Abu Ya'la dan sebagian ulama Hanabilah berpandangan hukumnya makruh tidak haram. Demikian Imam Malik dan Imam Syafi'i juga menghukumi makruh.

إذا ثبت هذا، فإنه يترك قطع الشعر وتقليم الأظفار

Jika keharaman cukur rambut dan potong kuku ini telah fix, maka orang yang akan berqurban harus menjauhi cukur rambut atau potong kukunya.

فإن فعل استغفر الله تعالى. ولا فدية فيه إجماعا، سواء فعله عمدا أو نسيانا

Namun kalau cukur rambut atau potong kuku tersebut tetap dilakukan oleh orang yang akan berqurban maka dia harus beristighfar minta ampun kepada Allah, tidak ada denda yang harus ditunaikan baik perbuatan tersebut dilakukan secara sengaja atau dalam keadaan lupa berdasarkan ijmak konsensus para ulama.

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب

Posting Komentar untuk "Hukum Mencukur Rambut & Memotong Kuku Bagi Pequrban Di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Menurut 4 Madzhab"