Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menampakkan Keilmuan Kepada Umat Teranggap Riya Dan Buruk, Benarkah?

 


Yurifa Iqbal, S.Si.

Sering kita temui para ustaz-ustaz yang mempromosikan program-program mereka kepada umat entah formatnya berupa kajian rutin, daurah, bedah kitab, program baca kitab, entah itu majelis offline atau online, entah itu berbayar atau gratis. 

Begitu pula sering kita jumpai para ustaz yang membagikan link tulisan-tulisan mereka agar umat dapat mengambil faedah ilmu darinya.

Ada juga ustaz yang menawarkan diri untuk menjadi Khatib Jumat, mengajukan diri untuk menjadi pembicara dalam agenda dakwah atau pengisi kajian di suatu forum. Penulis sendiri pernah bertemu seorang da’i yang menawarkan dirinya menjadi Khatib Jumat di suatu Masjid.

Tentu saja umat sangat layak mengambil faedah ilmu dari program, materi serta tulisan yang dibagikan, apalagi jika hal tersebut berasal dari ustaz yang memang berkompeten dan punya kapasitas keilmuan yang mumpuni.

Namun timbul pertanyaan, terkategori riya kah ketika ada ustaz yang membagikan link tulisan atau program kajian miliknya atau menawarkan diri menjadi pengisi kajian? Apakah hal tersebut terkategori pamer ilmu? 

Baik, mari kita simak keterangan dari seorang ulama yang sangat mendalam ilmunya yaitu Imam Al Qarafi Al Maliki yang terdokumentasi dalam karyanya kitab Adz Dzakhirah

 الذخيرة

juz 1 halaman 49 - 50 berikut :

واعلم أنه ليس من الرياء قصد اشتهار النفس بالعلم لطلب الاقتداء بل هو من أعظم القربات ، فإنه سعي في تكثير الطاعات ، وتقليل المخالفات
  
Ketahuilah, TIDAK TERMASUK RIYA JIKA DIRI BERTUJUAN UNTUK DIKENAL DAN MASYHUR DENGAN ILMU SYAR’I, agar dapat diteladani oleh umat, diambil faedah ilmunya oleh umat, bahkan hal demikian (tujuan agar dikenal memiliki ilmu syar’i agar dapat diambil faedah ilmunya) merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah yang paling agung/paling mulia, karena disana ada usaha untuk memperbanyak berbagai ketaatan kepada Allah dan meminimalisir berbagai penyimpangan dalam beragama.

وكذلك قال إبراهيم عليه السلام : واجعل لي لسان صدق في الآخرين, قال العلماء معناه يقتدي بي من بعدي ، ولهذا المعنى أشار عليه السلام بقوله : إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث علم ينتفع به 

Demikian juga Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkata : dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Para ulama menyatakan maknanya adalah agar generasi setelahku dapat meneladani dan mencontohku, makna inilah yang telah dinyatakan oleh Rasulullaah Muhammad Shalallaahu Alaihi Wa Sallam : jika manusia telah wafat maka terputuslah amalnya, kecuali 3 hal yang tidak terputus, diantaranya adalah ilmu yang diambil manfaatnya.

حضا على نشر العلم ليبقى بعد الإنسان لتكثير النفع
 
Rasulullaah Muhammad Shalallaahu Alaihi Wa Sallam memotivasi untuk menyebarkan ilmu agar setelah wafat ilmu tersebut tetap eksis dimana banyak umat yang mengambil manfaat serta faedahnya.

وقال العلماء بالله : ينبغي للعابد السعي في الخمول والعزلة ، لأنهما أقرب إلى السلامة
 
Para ulama yang mengenal Allah menyampaikan : selayaknya seorang ahli ibadah berupaya untuk tidak famous (tidak populer) & menyendiri karena kedua hal tersebut lebih dekat pada keselamatan.

وللعالم السعي في الشهرة والظهور تحصيلا للإفادة ، ولكنه مقام كثير الخطر ، فربما غلبت النفس ، وانتقل الإنسان من هذا المعنى إلى طلب الرئاسة ، وتحصيل أغراض الرياء

Dan seorang ‘Alim (orang yang berilmu) selayaknya berupaya agar dikenal dan hadir di tengah umat dalam rangka memberikan faedah dan manfaat ilmu. Akan tetapi perlu diketahui bahwa hal tersebut juga memiliki banyak bahaya! Bisa jadi orang yang berilmu tersebut terkalahkan oleh nafsunya sehingga dengan ilmunya malah berorientasi mencari kedudukan dan jabatan di tengah umat dan jatuh ke dalam bahaya Riya!

Keterangan diatas kemudian ditutup dengan nasehat yang indah dari Imam Qarafi Al Maliki :

ينبغي لطالب العلم أن يحسن ظاهره ، وباطنه ، وسره ، وعلانيته ، وأفعاله ، وأقواله

Selayaknya bagi penuntut ilmu (termasuk da’i, Ustaz, Muballigh) untuk memperbagus keadaan diri baik secara lahir maupun batin, baik dalam kondisi sembunyi maupun terang-terangan di hadapan publik, baik perbuatan dan perkataannya.

Keterangan untuk muncul dan menjadi populer di tengah umat agar dapat diambil ilmunya dapat kita jumpai juga dalam kitab Syarah Riyadush Shalihin karya Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin

شرح رياض الصالحين لابن عثيمين

juz 3 halaman 511 :

فتعليمه الناس خير من كونه يقبع في بيته ولا ينفع الناس بعلمه

Maka mengajarkan ilmu kepada umat jauh lebih baik daripada bersembunyi di tempat tinggalnya yang akibatnya umat tidak dapat merasakan faedah ilmu.

أما إذا كان لا بد من إظهار نفسه فلا بد أن يظهرها، هذا ممن يحبه الله

Adapun jika memang seorang yang berilmu perlu untuk menampakkan dirinya (alias membranding dirinya) maka mau tidak mau dia mesti muncul dan menampakkan kapasitasnya. Allah mencintai hal ini.

Dari keterangan diatas dapat kita ambil faedah bahwa tidak masalah seorang yang berilmu membagikan program kajiannya, link tulisannya, atau menawarkan diri menjadi pembicara khutbah atau majelis ilmu. Tentu dengan catatan bahwa ilmunya memang mumpuni dan kompeten. Hal demikian bukan suatu aib. Bukan juga termasuk Riya.

Meskipun tidak dipungkiri bahwa hal ini juga memiliki bahaya, dimana jika terdapat perubahan orientasi, yang dikejar bukan lagi pahala dari Allah tapi malah kedudukan dan pujian manusia. Astaghfirullaah.

Terakhir, tugas kita bukanlah memvonis orang lain Riya. Bukan tugas kita melabeli orang lain tidak ikhlas. Apa yang ada dalam hati biarlah urusan Allah. Kita hanya bisa menilai orang lain secara lahiriahnya. 

Imam Ibn Abdil Barr menyampaikan dalam kitab At Tamhid

التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد

yang terdokumentasi dalam juz 10 halaman 157 :

وقد أجمعوا أن أحكام الدنيا على الظاهر وأن السرائر إلى الله

Sesungguhnya para ulama telah bersepakat/berkonsensus (kesesuaian pandangan ulama) bahwa orang lain dihukumi sesuai dengan apa yang tampak padanya secara lahiriah, adapun apa yang ada dalam hati maka kita serahkan sepenuhnya kepada Allah, biarlah Allah menilai apa yang ada dalam hati.

Semoga Allah senantiasa memperbaiki keadaan kita baik secara lahir maupun batin. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam ketaatan. Aamiin.

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله أعلم


Posting Komentar untuk "Menampakkan Keilmuan Kepada Umat Teranggap Riya Dan Buruk, Benarkah?"