Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Ilah Menurut Aqidah Asyariyah

 


Yurifa Iqbal

Ilah dalam keseharian kita sering dialih bahasakan sebagai Tuhan sesembahan. Secara garis besar pembahasan ilah dalam literatur Aqidah Asy'ariah dapat kita maknai sebagai al ma'bud al mustahiq lil ibadah (sesembahan yang berhak disembah/diibadahi) dan juga al qadir alal ikhtira' (Maha Kuasa atas penciptaan).

Dua makna ilah/uluhiyah/ilahiyah ini disampaikan dalam berbagai literatur kitab madzhab Aqidah Asy'ariah. Berikut beberapa nukilannya.

Di dalam kitab 

الاعتقاد والهداية إلى سبيل الرشاد على مذهب السلف وأصحاب الحديث

pada halaman 54 disampaikan :

الله: معناه من له الإلهية، وهي القدرة على اختراع الأعيان، وهذه صفة يستحقها بذاته

Allah adalah Dzat yang memiliki sifat Ketuhanan, makna ilahiyah adalah Maha Kuasa atas penciptaan benda-benda, dan sifat ilahiyah tersebut hanyalah berhak bagi Dzat Allah.

Kemudian di literatur lainnya juga disampaikan makna yang semisal, misalnya dalam kitab 

الملل والنحل

juz 1 halaman 100 disampaikan :

قال أبو الحسن علي بن إسماعيل الأشعري: إذا كان الخالق على الحقيقة هو الباري تعالى لا يشاركه في الخلق غيره، فأخص وصفه تعالى هو: القدرة على الاختراع

Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al Asy'ari berpandangan : apabila Al Khaliq secara hakikat adalah Dzat Pencipta yang tidak ada satupun sekutu atas-NYA dalam hal penciptaan, maka sifat Ketuhanan yang paling spesial bagi Allah adalah ke Maha Kuasaan Dalam Penciptaan.

Dari nukilan 2 kitab diatas tampak bahwa makna ilah adalah Dzat yang Maha Kuasa atas penciptaan.

Bahkan Imam Asy Syahrastani menisbatkan makna ilah adalah Dzat yang Maha Kuasa atas penciptaan ini kepada Imam Abul Hasan Al Asy'ari!

Namun perlu diketahui  juga bahwa madzhab Asy'ariah juga memaknai ilah sebagai sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi (المعبود أو المستحق للعبادة, al ma'bud al mustahiq lil ibadah)!

Kita haruslah berlaku inshaf alias proporsional dan adil berkaitan dengan pembahasan ini! Perlu disampaikan secara ilmiah. Dan berikut beberapa kitab primer Asy'ariah yang dapat dirujuk.

Di dalam kitab

إحياء علوم الدين 

karya Imam Al Ghazali pada juz 4 halaman 316 disampaikan :

بل هو معنى قولك لا إله إلا الله أى لا معبود ولا محبوب سواه

Bahkan ucapan engkau pada kalimat tauhid laa Ilaha Illa Allah maknanya adalah tidak ada sesembahan dan tidak ada yang dicintai kecuali hanya Allah semata!

Kemudian di dalam kitab

الأسماء والصفات

karya Imam Al Baihaqi pada juz 1 halaman 56 disampaikan :

فمعنى الإله: المعبود، وقول الموحدين: لا إله إلا الله معناه لا معبود غير الله

Makna ilah adalah Dzat yang disembah, ucapan orang-orang yang mentauhidkan Allah pada kalimat laa Ilaha Illa Allah maknanya adalah tidak ada Dzat yang berhak disembah selain Allah!

Kemudian makna ilah dalam literatur Aqidah Asyariyah bisa kita jumpai pula dalam kitab

 أنوار التنزيل وأسرار التأويل  

juz 1 halaman 153 :

والمعنى أنه المستحق للعبادة لا غيره

Makna laa Ilaha Illa Allah : hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah/diibadahi, bukan yang lain!

Kemudian juga di dalam kitab

نواهد الأبكار وشوارد الأفكار حاشية السيوطي على تفسير البيضاوي

pada juz 1 halaman 137 juga disampaikan :

وقال الشيخ سعد الدين: الإلاه اسم لمفهوم كلي، هو المعبود بحق، و «الله» علم لذات معين، هو المعبود بالحق

Syaikh Sa'aduddin Taftazaniy berkata ilah merupakan nama untuk konsep global, maknanya adalah sesembahan yang berhak untuk disembah dengan benar, dan Allah adalah nama Dzat tertentu dimana ALLAH adalah SESEMBAHAN YANG BERHAK DISEMBAH DENGAN BENAR. 

وبهذا الاعتبار كان قولنا: لا إله إلا الله كلمة التوحيد، أي لا معبود بحق إلا ذلك الواحد الحق

Sehingga ucapan kita berupa kalimat tauhid laa Ilaha Illa Allah maknanya adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali hanyalah Allah Dzat Yang Maha Tunggal!

Jelas sekali makna ilah dari 4 nukilan kitab diatas bukan? Tidak ada keraguan bukan?

Penjelasan semisal dapat dijumpai pula dalam kitab fiqih madzhab Imam Syafi'i 

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج

karya Al Allamah Khatib Asy Syirbini pada juz 1 halaman 93 :

(وَأَشْهَدُ) 

أَيْ أُعْلِمُ وَأُبَيِّنُ (أَنْ لَا إلَهَ) أَيْ لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ فِي الْوُجُودِ (إلَّا اللَّهُ) الْوَاجِبُ الْوُجُودِ

Asyhadu maksudnya adalah saya informasikan dan jelaskan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar di alam dunia ini kecuali hanyalah Allah Dzat Wajibul Wujud (wajib keberadaan-NYA).

Lalu Imam Badruddin Az Zarkasyi di dalam kitab

معنى لا إله إلا الله

juz 1 halaman 83 menyampaikan :

ليس فيها حرف معجم بل جميعها متجردة عن النقط إشارة إلى التجرد عن كل معبود سوى الله تعالى

Pada kalimat tauhid tidak terdapat huruf yang samar, bahkan tidak terdapat tanda titik pada semua huruf di kalimat tauhid yang menandakan bahwa tidak ada satupun sesembahan yang berhak disembah kecuali hanyalah Allah semata.

قول لا إله إلا الله أي على هذه الصيغة الخاصة الجامعة بين النفي والإثبات ليدل على حصر الإلهية لله تعالى

Ucapan tauhid laa Ilaha Illa Allah pada redaksi ini bersifat khusus yang menggabungkan antara penafian (tidak ada sesembahan yang berhak disembah) serta penetapan (hanyalah Allah Dzat yang berhak disembah dengan benar), ini untuk menunjukkan bahwa hak ilahiyah untuk disembah/diibadahi hanyalah terbatas bagi Allah.

Kemudian di dalam kitab

حاشية الشيخ محمد الدسوقي على شرح أم البراهين

halaman 655 dan 658 disampaikan :

وحقيقة الإله هو الواجب الوجود المستحق للعبادة

Hakikat ilah adalah Dzat Wajibul Wujud yang berhak untuk disembah/diibadahi.

والمعنى على هذا لا مستحق للعبودية له موجوداً أو في الوجود إلا الفرد الذي هو خالق العالم جلّ وعلا

Sehingga maknanya tidak ada Dzat yang berhak disembah/diibadahi di alam dunia ini kecuali hanyalah Allah جلّ وعلا Dzat Maha Tunggal Pencipta Alam Semesta.

Terakhir, Al 'Allamah Al Baijuri di dalam kitab 

تحفة المريد على جوهرة التوحيد

halaman 208 menyampaikan :

فحقيقة الإله: المعبود بحق

Maka hakikat ilah adalah Dzat yang berhak untuk disembah & diibadahi dengan benar!

فمعنى لا إله إلا الله الحقيقي: لا معبود بحق في الواقع إلا الله

Sehingga makna laa Ilaha Illa Allah yang hakiki adalah tidak ada Dzat yang berhak disembah & diibadahi dengan benar dalam realitas kehidupan ini KECUALI HANYALAH ALLAH!

Berdasarkan beberapa nukilan yang telah disebutkan dapat kita pahami bersama bahwa sesungguhnya para ulama Asy'ariah juga memaknai ilah itu sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan diibadahi dengan benar! 

Sesungguhnya mereka tidaklah jahil dengan makna ilah tersebut. Meskipun kita juga tidak boleh tutup mata akan adanya makna lain dari ilah dalam literatur Aqidah Asy'ariah.

Demikian pembahasan ringkas terkait hal ini. Semoga bermanfaat.

والله تعالى أعلم بالصواب

Posting Komentar untuk "Makna Ilah Menurut Aqidah Asyariyah"